Judul album Sheila on 7 (SO7) yang ke 6 (dalam hitungan saya) punya makna yang dalam. Menentukan Arah, menurut saya mengandung filosofi yang tak sembarangan buat band sekaliber Sheila on 7.

Setelah rilis album 507 (2006) band asal Yogyakarta ini seperti kehilangan kompasnya. Kapal mereka berlayar ke arah yang tak semestinya. Berbagai masalah menghantam di lambung kapal. Dari Erros yang berlayar sendiri sampai Sakti yang keluar dari “armada perang Sheila”. Ini sempat membuat kemudi mereka goyah. Tapi itu bukan masalah. Kapten SO7 itu dipegang Duta dan navigator-nya Erros (tanpa ada maksud merendahkan Sakti). Kalau salah satu awak itu menanggalkan mikrofon dan gitarnya, baru SO7 saya anggap karam.

Saya sempat murtad dan tak mengakui SO7 ada selepas album Pejantan Tangguh (2004) keluar.Β  Band Independen yang muncul ke permukaan membuat saya kepincut. Dengan menjual idealisme, band “bawah tanah” itu mulai mengikis selera musik saya pada grup musik macam Sheila on 7 dan musik mainstream lainnya. Tentu saja band arus utama seperti Nidji, Samsons, Peterpan, Andra and The Backbone, dan lain-lain tetap saya perhatikan gerak langkahnya. Tapi saya tak pernah sangat suka dengan mereka.

Hancurkah SO7 di mata saya? Tidak! Adam dan kawan-kawan cerdas dengan vakum sejenak sambil waspada memperhatikan pasar mereka yang sudah direnggut band lain. Lalu munculah album Menentukan Arah ini. Sebuah pengukuhan dari Erros dan kawan-kawan yang ingin mengatakan kalimat eksistensi: Inilah arah yang kami ambil.

SO7 tak perlu neko-neko di album ini. Biarlah band Jogja lainnya yang berubah halauan. Tak perlu sentuhan piranti musik elektronik dan improvisasi berlebihan, Sheila on 7 sudah bisa mendapatkan pasarnya kembali. Cukup dengan semangat baru. Atau lebih tepatnya semangat yang dulu. Semangat ketika mereka muncul pertama kali dengan lagu bertajuk Kita dan JAV J.A.P. kegemaran saya dikumandangkan. Selamat datang di haribaan musik Indonesia lagi kawan.

Ah, saya jadi bernostalgia nih. Mendengarkan lagu Sheila on 7 sembari menikmati suasana kota gudeng selepas hujan sepertinya nikmat.

Iklan