Tiga orang sahabat; riwil, banci foto, dan kemayu kumpul malam minggu lalu. Meski ketiganya sudah terkontaminasi gaya hidup perkotaan yang hedon, mereka tetap memilih menggelandang dan bercengkrama di kaki lima. Pun alam pikir ketiganya tak semegah embel-embel gelar yang ada di belakang nama mereka: SARJANA.

Malam itu ketiga sok-sokan membahas masalah terkini tentang Rancangan Undang-undang (RUU) Pornografi. Sebut saja nama mereka: Dance, Mance, dan Tince.

Tince: Ada RUU pornografi nih, lo mau ikut dukung gak?
Mance: Ah, lo aja sana yang dukung. Gue nolak.
Dance: (memotong pembicaraan) Gue tau, pornografi buat lo itu penyeimbang hidup kan?
Mance: Betul itu. Tau aja lo.
Dance: kan koleksi lo banyak nyong.
Mance: …..
Tince: Penyeimbang hidup gimana?
Mance: Iya penyeimbang hidup buat gue yang suci ini.
Tince: tae sok suci lo.
Mance: Loh, biarin aja. Daripada mereka yang ngaku suci dan beriman tapi ngebom, ngerusak, ama mukulin orang. Malah bikin malu agamanya sendiri. Mending kayak gue… mengaku setengah suci. Hahaha
Dance: Jah, serius amat ngomongnya.
Mance: abis kalo ngobrol ama lo bedua ujung-ujungnya kalo gak cewek, porno, terus nyambung-nyambung ke roy suryo. Capek gue.
Tince: …..
Dance: ANJRIT!!

Ilustrasi obrolan di atas sering terjadi dalam public sphere. Spasi public sphere biasanya ada di cafe, angkringan, tongkrongan kaki lima, atau apalah tempatnya itu you name it, yang penting anak adam bisa kumpul dan bicara tetek bengek masalahnya masing-masing.

Topik obrolan dalam public sphere tak bisa dikendalikan. Pikiran orang bisa mengawang lalu bicara politik, ekonomi, agama, ras, dan lain-lainnya tanpa ada badan sensor. Mereka juga bebas membuat opini sepihak, menghakimi, dan mendiskreditkan sebuah institusi pemerintah, komunitas, dan “orang beken” tanpa ada toleransi. Seorang presiden pun boleh dihina dan dicaci jika mau.

Separah itukah public sphere? Iya. Lah… siapa juga yang mau menangkap orang-orang bicara ngawur itu? Yang berwenang? Siapa?

Dalam sebuah mata kuliah saya pernah ditanya dosen. Bagaimana kalau public sphere dimata-matai? Saya tak tahu jawab apa. Kemudian si dosen itu lugas menjawab. “Cafe-cafe itu nggak akan laku. Terus kita-kita yang ngobrol nggak karuan menjelek-jelekan sesuatu tadi bakal dipenjara karena tuduhan pencemaran nama baik.” KONYOL!!

Masa iya kalau saya keceplosan ngomong A**ad Dh*** itu banyak omong kosong, sok tau, dan goblok, bakal dipenjara? *ooppss* MORON!

dondanang [bertanya-tanya] apa blogsphere bakal seperti public sphere?

Asalkan jangan berujung kasus seperti ini silakan saja. Kritis boleh tapi jangan kebablasan. Oke? Happy writing guys.

Iklan